Sejarah telah mencatat
bahwa Mazhab fiqih dalam Islam bukan hanya 4 mazhab seperti yang banyak
diketahui oleh orang-orang kebanyakan; yaitu Imam Hanafi, Imam Malik,
Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Lebih dari itu banyak
sekali Imam Mujtahid Mutlak yang sederajat dengan para Imam 4 tersebut
bahkan lebih pintar dan cerdas. Hanya saja memang banyak beberapa mazhab
tersebut sudah tidak diikuti, atau fatwa-fatwa mereka sudah tidak lagi
sesuai dengan zaman. Dan yang masyhur sampai hari ini dan masih banyak
diikuti oleh mayoritas Muslim di jagad raya ini ya 4 mazhab popular
tersebut.
Walaupun ada juga yang
sampai sekarang masih mengikuti pendapat selain Imam yang 4 itu dengan
jumlah pengikut yang tidak banyak memang, seperti Imam Ibnu Hazm atau
juga Imam Abu Ja’far yang dikenal dengan Ja’fariyyah, atau juga Imam
Zaid bin Ali dengan madzhab Zaidiyah-nya.
Masa 4 Imam Madzhab
Kalau kita buka kitab
sejarah kita akan menemukan beberapa nama besar dalam jajaran Mujtahid
Mutlak bidang Fiqih tentunya. Diantaranya Imam Al-Laits bin sa’ad (W 175
H) yang hidup sezaman dengan Imam Malik dan disebut sebagai Imamnya
negeri Mesir.
Dan beliau jugalah
Imam yang sangat dikagumi oleh Imam sayfi’i. Bahkan beliau (Imam
Syafi'i) mengatakan: “Imam Al-laits lebih cerdas dari Imam Malik”. (Al-A’lam Lil-Zirikli 5/248)
Di Irak semasa dengan
Imam Abu Hanifah, ada juga Imam yang masyhur dengan sebutan
Amirul-Mukminin Fil-Hadits (Imam Kaum Muslimin dalam Ilmu Hadits), yaitu
Imam Sufyan Ats-tsauri (W 161H).
Dan ternyata beliau
bukan saja Imam dalam hadits, tetapi ijtihad-ijtihad beliau dalam bidang
Ilmu Fiqih juga sangat dijadikan pegangan oleh kebanyakan Ulama sampai
hari ini. Bahkan ketaqwaannya sebagai seorang yang Alim menjadi teladan
bagi juniornya.
Sempat ditawari
memegang kendali politk Kuffah oleh Al-Mansour Al-Abbasi, namun ia
menolah dan pada tahun 144 H beliau keluar dari Kuffah untuk menetap di
mekkah.
Ada juga nama besar
seperti Imam Al-Auza’i (W 157H), sang imam negeri Syam. Fatwa dan
ijtihadnya diamalkan hingga ratusan tahun. Bahkan sampai hari ini,
pendapat-pendapat beliau selalu menjadi perhatian bagi para ulama.
Dalam kitab “Tarikh Beirut” (sejarah Beirut), sheikh Sholeh bin Yahya mengatakan: “Imam
Auza’i adalah orang dengan pangkat tinggi di negeri Syam, bahkan
perintah beliau lebih dihormati oleh penduduk Syam dibanding perintah
Sultan Syam sendiri”.
Di Kalangan pengikut
Imam Abu Hanifah ada nama besar, Imam Abu Yusuf (W 182H), sahabat
sekaligus murid Imam Abu hAnifah sendiri. Pedapat dan ijtihadnya banyak
dijadikan rujukan bagi para pengikut mazhab hanafiyah sampai hari ini.
Walaupun ia tergolong
sebagai Imam yang bermazhab Hanafi, tetapi tidak sedikit fatwa beliau
yang justru berbeda dengan Imam Abu Hanifah sendiri. dan beliaulah orang
pertama yang menyebarkan mazhab Hanafi, juga beliau lah orang pertama
yang menulis Kitab Ushul Fiqih Mazhab Imam Abu Hanifah.
Juga ada nama masyhur dengan sebutan Ahli tafsir karena kitab tafsirnya yang fenomenal “Jami’ul-Bayan fi Ta’wilil-Qur’an”,
yaitu Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari (W 310H). Walaupun sebagai Mufassir,
beliau juga dikenal sebagai Mujtahid Mutlak ilmu Fiqih, akan tetapi
mazhabnya sudah amat sangat jarang sekali kita temui di zaman sekarang.
Sebelum Mazhab 4
Sebelum mazhab 4 yang
masyhur itu muncul, ada juga mazhab-mazhab fiqih yang berkembang dari
para mujtahid-mujtahid Mutlak zaman tabi’in yang merupakan guru dan
sheikh-nya para Imam Mazhab 4 itu tadi. Dan beliau-beliau inilah para
alumni yang menyelesaikan pembelajarannya ditangan para Sahabat Nabi
Ridhwanullahi ‘Alayhim.
Ada Sa’id bin
Al-Musayyib (W 94H) dan Salim bin Abdullan bin Umar (W 106H) di madinah
yang banyak mengikuti pendapat kakelnya sayyidina Umar bin Khoththob.
Kemudian disusul oleh Al-Zuhri (W 124H) di kota yang sama.
Di Mekkah, ada Atho’
bin Abi Robbah. Ibrahim An-Nakho’i dan Asy-Sya’bi di Kuffah. Thawus bin
Kaisan dan juga Makhul dari negeri Syam. Dan masih banyak lagi semisal
Ibnu Sirin, Al-aswad, Masruq, dan juga Al-Hasan di negeri Bashrah.
Dan ada Ibul-Hurmuz
yang merupakan guru dari Imam Malik, Founder Mazhab Maliki. Ada cerita
menarik antara Imam Malik dan Ibnul-Hurmuz sebagaimana diebutkan dalam
kitab “Jami’ Bayan AL-‘Ilm Wa Fadhlih” tentang bagaimana ketaqwaan
beliau dalam mengajar murid-muridnya termasuk Imam Malik. InsyaAllah
kita akan bahas kemudian di forum yang sama.
Kemudian yang banyak
dikenal oleh golongan Ahlul-Bait yang hidup jauh sebelum para Imam
Mazhab 4, yaitu Imam Zaid bin Ali (W 122H) yang mazhabnya disebut dengan
Zaidiyah. Dan Zaidiyah-lah mazhab fiqih yang menjadi mazhabnya Imam
As-Shon’ani, pengarang Kitan Subulus-Salam.
Saking cerdasnya, Imam Abu Hanifah memuji cucu dari sayyidina Ali bin Abi Tholib ini dengan mengatakan bahwa “tiada orang yang lebih pintar dari Zaid dizamannya.”
Sebelum Masa Tabi’in
Sebelum para fuqoha’
dan mujtahid-mujtahid dari jajaran Tabi’in muncul terlebih dahulu
guru-guru dan sheikh-sheik mereka yang adalah para Sahabat Ridhwanullah ‘Alayhim. Beliau-belau para Sahabat Nabi-lah yang telah menamatkan masa belajarnya langsung dari tangan dan mulut Nabi Muhammad SAW.
Merekalah yang
menyaksikan turunnya Al-qur’an, paling tahu tentang Asbab-Nuzul. Meeka
yang paling mengerti dengan Makna dan tujuan hadits yang keluar dari
perkataan dan perbuatan Nabi SAW. Paling memahami makna da nisi
Al-qur’an, serta paling mengerti tentang Dilalah (petunjuk) lafadz
syariah.
Siapa yang tidak tahu
Kafaqihan Abu Bakr ra, orang pertama yang menggantikan Nabi menjadi Imam
sholat ketika Nabi sakit. Kecerdasan Umar bin Khoththob.
Kebijakansanaan Ustman bin ‘Affan. Kepintaran Ali bin Abi Tholib. Dan
juga Ummul-Mukminin sayyidatuna ‘Aisyah ra.
Ada juga Ibnu Mas’ud,
Ibnu Abbas yang terkenal Luwes dalam fatwanya, Ibnu Umar yang terjenal
keras dan tegas dalam berfatwa. Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan
Imam-Imam Sahabat lainnya yang memang patut menjadi panutan dan teladan.
Banyak Belajar, Banyak Referensi = Tidak Jumud
Saya mengajak bagi
para pembaca sekalian, terlebih jika kita seorang pengajar, penggiat
dakwah dan fiqih, banyak dijadikan penutan dan banyak dijadikan tempat
bertanya, penting bagi kita untuk mengetahui pendapat para Imam-Imam
besar tersebut. Tidak terbatas hanya pada 4 Imam masyhur.
Fiqih adalah sesuatu
yang sangat fleksibel. Dan semua fatwa dan Ijtihad para Imam itu pasti
terengaruh dengan kondisi dimana sang Imam menjadi Da’i.
kita tahu betul bahwa
Imam syafi’I pun mempunyai 2 Qoul; Qadim (lama) sewaktu masih di Irak
dan Jadid (baru) sewaktu di Mesir. Qoul yang dahulu dianggap Rajih pada
masa lalu bisa saja jadi Marjuh di zaman sekarang. Dan sebaliknya, qoul
yang dianggap Marjuh zaman dahulu bisa saja menjadi Rajih jika diterakan
di zaman sekarang.
Mengetahui
pendapat-pendapat Imam lain akan membuat kita lebih terbuka. Dan pasti
menjauhkan kita dari kesempitan, dan kejumudan jika berbicara tentang
syariah.
wallahu A'lam
Ahmad Zarkasih, Lc
No comments:
Post a Comment